Kompas.com menurunkan tiga tulisan berisi wawancara
wartawati majalah Angkasa, Reni Rohmawati, dengan Rusdi
beberapa tahun lalu. Petikan wawancara ini pernah dimuat di majalah Intisari edisi Desember 2013 dengan judul asli "Rusdi Kirana: Sosok Misteri–
Who Makes People Fly". Pemuatan artikel ini atas seizin Intisari. Ini adalah artikel
kedua dari tiga tulisan. Artikel sebelumnya silakan baca: Rusdi Kirana di Balik Lion Air (1):
Saya Ini Pengusaha Airlines yang Penuh Misteri
-------------
Bagaimana Anda bisa menggiring mereka ke arah yang Anda mau?
Awalnya sulit kalau
kita belum berikan sesuatu. Ini kejadian waktu di Timor Leste (seraya menunjuk
foto yang Angkasa bawa). Saya tersenyum
di sini, padahal sedang ada masalah. Saya punya enam pilot, lima minta
berhenti. Di situ saya diuji; di-fait accompli.
Waktu itu, saya punya satu pesawat B737-200 PK-LIA. Mereka mau bargain macam-macam. Pada saat itu, saya tak mau dengar. Kita tak akan biarkan dan tak akan saya setujui. Lebih baik perusahaan tutup daripada mereka menekan saya.
Itu proses saya diuji oleh orang-orang ini. Akhirnya, saya harus bisa memotivasi. Ternyata membuahkan hasil. Hasilnya, mereka percaya.
Waktu itu, saya punya satu pesawat B737-200 PK-LIA. Mereka mau bargain macam-macam. Pada saat itu, saya tak mau dengar. Kita tak akan biarkan dan tak akan saya setujui. Lebih baik perusahaan tutup daripada mereka menekan saya.
Itu proses saya diuji oleh orang-orang ini. Akhirnya, saya harus bisa memotivasi. Ternyata membuahkan hasil. Hasilnya, mereka percaya.
Bagaimana Anda membangun loyalitas? (saat petikan
wawancara ini dimuat pada 2013, Lion Air Group memiliki sekitar 20.000
karyawan)
Tidak perlu yang
loyal. Loyalitas bisa dibangun kalau mereka punya kepentingan juga. Loyalitas
itu tak bisa hanya dari yang ada pada diri kita, tetapi kalau kita memikirkan
mereka dan memberikan apa yang mereka butuhkan, seperti membangun perumahan
untuk mereka.
(Lion City dibangun di area 30 hektar di kawasan Telaga Bestari, Balareja)
(Lion City dibangun di area 30 hektar di kawasan Telaga Bestari, Balareja)
Dalam wawancara Angkasa 12 tahun lalu, nasihat orangtua
Anda adalah mesti punya hati nurani. Apa yang Anda wujudkan dari nasihat itu?
Kita bicara perumahan
bagi karyawan. Kalau kita bicara mengenai loyalitas karyawan, malah kita harapkan
mereka enggak tinggal lama. Kenapa? Contoh, sopir. Makin lama mereka kerja,
obligasi makin mahal. Kalau ganti yang baru, gaji turun. Tapi, kita bangun itu
atas dasar nurani, bukan bangun loyalitas.
Ada kasus-kasus yang terkait layanan, sepertinya Lion Air tak punya hati
nurani?
Kalau mereka berpikir
ke sana, saya tak bisa berdebat karena itu pembuktiannya sangat subyektif.
Namun, saya bisa mengatakan yang mereka tak bisa menyangkal.
Saya membuat di Indonesia orang bisa bepergian dengan murah. Kalau dianggap saya tak punya nurani, dari mana mereka bisa bepergian sekarang dari kota A ke kota B, tujuan apa pun dengan harga tiket terjangkau?
Saya membuat di Indonesia orang bisa bepergian dengan murah. Kalau dianggap saya tak punya nurani, dari mana mereka bisa bepergian sekarang dari kota A ke kota B, tujuan apa pun dengan harga tiket terjangkau?
Kalau kita bicara
nurani soal pelayanan, itu subyektif. Nurani yang harus kita pertahankan adalah
bagaimana orang itu jangan kita kurangi kemampuannya dalam membeli. Kita jangan
jual dengan harga mahal, bagaimana harga tetap terjangkau.
Kalau seandainya orang suka atau tidak suka, itu subyektif. Yang obyektif adalah how they can build an airport to buy the ticket that pays and brings to any destination.
Kalau seandainya orang suka atau tidak suka, itu subyektif. Yang obyektif adalah how they can build an airport to buy the ticket that pays and brings to any destination.
Kita bikin Medan-Nias
dan Medan-Sibolga. Istri ajak pulang kampung ke Sibolga. Saya malas. Dari
Jakarta ke Medan dua jam lebih, dari Medan naik kendaraan lagi. Kalau saya browsing, ada Wings Air.
Sekarang saya susur dua kampung. Itu bicara orang punya uang. Jangan bicara lagi soal tidak punya uang.
Dulu, orang Padang yang terbang hanya orang Semen Padang dan Universitas Andalas. Sekarang, semua orang bisa terbang. Makassar-Kolaka, misalnya, dengan penerbangan hanya 45 menit, kalau enggak 16 jam.
Kita menerbangkan 110.000 penumpang, 800 penerbangan per hari, dengan OTP (on time performance) 75 persen. Hampir 60 kota kita terbangi di Indonesia; dari Banda Aceh sampai Merauke, dari Lhokseumawe sampai Nabire, dari Melanguane sampai Ende.
Sekarang saya susur dua kampung. Itu bicara orang punya uang. Jangan bicara lagi soal tidak punya uang.
Dulu, orang Padang yang terbang hanya orang Semen Padang dan Universitas Andalas. Sekarang, semua orang bisa terbang. Makassar-Kolaka, misalnya, dengan penerbangan hanya 45 menit, kalau enggak 16 jam.
Kita menerbangkan 110.000 penumpang, 800 penerbangan per hari, dengan OTP (on time performance) 75 persen. Hampir 60 kota kita terbangi di Indonesia; dari Banda Aceh sampai Merauke, dari Lhokseumawe sampai Nabire, dari Melanguane sampai Ende.
Bagaimana dengan kejadian di Manado? (Penumpang kepanasan,
sampai membuka pintu darurat. Baca: AC Tak Dingin, Penumpang Lion Air Buka Pintu Darurat)
Tak usah berdebat dan
membela diri. Yang kita lakukan, kita perbaiki. Saya panggil direktur teknik,
direktur operasi,danground handling. Kelemahan kita ini
pada orang dan ini yang harus dibangun. Saya juga harapkan karyawan saya care terhadap penumpang walaupun ini tidak mudah.
Penumpang sekarang
juga tak mudah dengan emosi yang berbeda-beda. Kita tak perlu berdebat dengan
mereka. Saya tak mau diwawancara, tak pernah berikan statement.
Kenapa? Kita tak perlu defense. You can say I’m wrong, oke karena memang saya di pelayanan. Dalam layanan, saya tak mau debat agar orang itu mengatakan saya benar. Kamu mengatakan saya benar, setelah kamu merasakan produk saya.
Kenapa? Kita tak perlu defense. You can say I’m wrong, oke karena memang saya di pelayanan. Dalam layanan, saya tak mau debat agar orang itu mengatakan saya benar. Kamu mengatakan saya benar, setelah kamu merasakan produk saya.
Kalau kamu anggap
produk saya tak benar, ya saya perbaiki. Tapi, kalau saya anggap produk saya
sudah benar, it’s your choice. Kita tak bisa mencari
alasan dari kegagalan kita. Yang kita lakukan adalah kita improve diri kita.
Apa dampak kejadian Manado bagi Anda?
Luar biasa kejadian
Manado itu. Saya pun terkaget-kaget. Saya pikir biasa saja. Saya tahu beberapa
orang yang iseng. Saya punya bukti, tetapi yang rugi kalian. Kalian jadi tak
fokus dan rugikan diri sendiri.
Kapan-kapan, coba Mbak Reni merenung. Airlines mana di Indonesia, even di ASEAN, mungkin di Asia, di dunia, yang mengalami fatal, sangat fatal. Dari masalah pilot trust, incident, accident, problem pesawat terbesar, sampai market share 50 persen. Tak ada.
Kapan-kapan, coba Mbak Reni merenung. Airlines mana di Indonesia, even di ASEAN, mungkin di Asia, di dunia, yang mengalami fatal, sangat fatal. Dari masalah pilot trust, incident, accident, problem pesawat terbesar, sampai market share 50 persen. Tak ada.
Pak Chappy telepon
saya, "Mental lu kuat!" Kenapa? Tak kuat mental saya. Saya menangis
di ruangan saya, tetapi tak di luar. Di luar saya tersenyum.
Saya menangis tersengguk-sengguk. Waktu saya menangis itu, ada anak saya melihat. Saya juga dapat tekanan tinggi, tetapi saya berusaha untuk tough. Salah satu yang membuat saya lebihtough: tutup kuping, tutup mata, tutup mulut.
Saya menangis tersengguk-sengguk. Waktu saya menangis itu, ada anak saya melihat. Saya juga dapat tekanan tinggi, tetapi saya berusaha untuk tough. Salah satu yang membuat saya lebihtough: tutup kuping, tutup mata, tutup mulut.
Mungkin orang marah
karena mereka terpengaruh oleh berita-berita itu, seakan-akan kita ini tak
punya nurani. Kita tak salahkan mereka. Kita tak peduli ini pelayanan lagi ada
masalah. Yang kita mau adalah giving good service. Saya juga tak salahkan
infrastruktur. Saya juga tak mau hipokrit.
Yang membuat saya
lebih kuat dalam hidup, saya berdoa. Tuhan, terima kasih saya masih ada
kesehatan dan rezeki.
Waktu saya berdoa, saya membayangkan zaman saya waktu susah. Saya membayangkan kalau saya tak punya apa-apa. Di situ, saya merasa encouraged. Tak usah berpikir hal-hal yang membuat kita jadi dis-couraged.
Kita harus mengerti, di bidang ini kejadian seperti itu pasti terjadi. What did you expect dengan penerbangan yang sangat besar itu? Banyak airlines yang alami seperti saya juga, tetapi kenapa tak diekspos? Saya dalam 13 tahun dengan pencapaian sampai hari ini, gila! Misteri apa ini?
Waktu saya berdoa, saya membayangkan zaman saya waktu susah. Saya membayangkan kalau saya tak punya apa-apa. Di situ, saya merasa encouraged. Tak usah berpikir hal-hal yang membuat kita jadi dis-couraged.
Kita harus mengerti, di bidang ini kejadian seperti itu pasti terjadi. What did you expect dengan penerbangan yang sangat besar itu? Banyak airlines yang alami seperti saya juga, tetapi kenapa tak diekspos? Saya dalam 13 tahun dengan pencapaian sampai hari ini, gila! Misteri apa ini?
Sumber : kompas
0 Response to "Rusdi Kirana di Balik Lion Air (2): Saya Membuat Orang di Indonesia Bisa Bepergian dengan Murah"
Posting Komentar